![]() |
| (Foto/komodopos.com). |
Gereja Stasi Nggorang Ambruk, Taksasi Kerugian Ratusan Juta Rupiah
KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Angin kencang yang menyapu sebagian wilayah desa Nggorang, kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (23/11) kemarin meninggalkan bekas yang memprihatinkan. Bangunan Gereja Stasi Beata Maria Theresa Nggorang, Paroki Theresia Lisieux Longgo, Keuskupan Ruteng hancur berantakan. Taksasi kerugian material bangunan Gereja yang terletak di bukit Watu Langkas, itu mencapai ratusan juta rupiah.
Berita Komodopos.com sebelumnya, kerusakan sangat parah terdapat pada bangunan Sakrrsti Gereja. Konstruksi Atap bagian timur Gereja yang terbuat dari rangka baja ringan, hancur total diterjang angin kencang. Sink atap dan rangka baja ringan terlempar berantakan ke tanah dan tidak dapat dimanfaatkan lagi.
"Kondisi paling parah di sebelah timur sayap gereja yang tahun sebelumya telah dibagun ruangan Sakresti. Atap sink, rangka baja, semuanya terlempar ke bubungan gereja hingga hancur berantakan", terang Berty Agung, umat Stasi Beata Maria Theresa Nggorang yang rumahnya dekat dengan lokasi Gereja tersebut.
Kepala Sekolah SMPN 2 Mbeliling, Paulinus Rodi, S.Pd yang tinggal di Watu Langkas tidak jauh dari lokasi Gereja tersebut juga mengemukakan hal senada.
"Derasnya angin yang terjadi kemarin memporakporandakan bangunan Sakresti Gereja yang dibangun belum setahun ini. Konstruksi bangunan Gereja seluruhnya terbuat dari baja ringan. Namun angin kencang menyapu bersih dalam seketika. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun taksasi kerugian umat diperkirakan ratusan juta rupiah", ungkap Paulinus Rodi ketika dikonfirmasi Komodopos.com melalui handphone selularnya , Minggu (24/11) pagi.
Ia menambahkan, sejumlah barang kudus dan bangku tempat duduk yang ada di dalam Gereja luput dari amukan angin kencang. Namun kondisinya memprihatinkan lantaran basah kuyup tersiram air hujan. Kondisi di dalam Gereja juga tampak sangat kotor. Dedaunan kayu yang terbawa angin berserakan di dalam Gereja.
Berty Agung menambahkan, sesaat usai kejadian kemarin warga Watulangkas berbondong-bondong menuju lokasi Gereja yang tidak jauh dari pemukiman warga. Mereka berupaya memindahkan puing-puing bangunan yang yang tercecer dan berantakan di tanah fan membersihkan kotoran di dalam dan halaman Gereja.
Jaringan listrik putus total
Informasi yang dihimpun Komodopos.com, Minggu (24/11) pagi ini menyebutkan, kebaktian umat setempat hari Minggu pagi ini tetap berjalan meskipun tanpa menggunakan sound system karena jaringan listrik putus total.
Sementara itu, banyak umat yang datang mengikuti perayaan Ekaristi terpaksa berdiri atau duduk di bawah pohon kayu yang masih tersisa di lokasi Gereja yang ambruk tersebut.
"Misa pagi hari Minggu (24/11) tetap berjalan hanya saja banyak umat yg tdk tertampung didalam gereja. Mereka hanya berdiri/duduk diluar. Selain itu sampai saat ini baja ringan besrta sengnya masih berada di atas atap gereja yg lama belum di bersihkan. Misa juga tnpa sound sistem karena listrik putus total", terang Paulinus. *(Robert Perkasa)

